Makalah
Perbandingan Teori Darwin dan Teori Kehidupan Awal Manusia
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Diantara sekian banyak penemuan yang diciptakan oleh manusia dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian canggih, masih ada satu permasalahan yang hingga kini belum mampu dijawab dan dijabarkan oleh manusia secara eksak dan ilmiah. Masalah itu ialah masalah mengenai asal usul kejadian manusia. Banyak para ahli ilmu pengetahuan mendukung adanya teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin dalam bukunya yang berjudul The Origin of Species yang mengatakan bahwa “manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna”. Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan-penemuan ilmiah berupa fosil seperti jenis Pitheccanthropus dan Meghanthropus.
Tetapi di lain pihak, banyak para ahli yang menentang adanya proses evolusi manusia. Hal ini berdasarkan adanya kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh setiap manusia, yang pada umumnya mengatakan bahwa manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Pada saat ini, teori mengenai evolusi manusia sedang menjadi perbincangan yang hangat, yang meluas sampai ke negara Indonesia. Hal ini menyebabkan adanya perdebatan oleh para ahli mengenai kehidupan awal manusia di Indonesia. Berdasarkan latar belakang diatas maka dibuatlah makalah mengenai “Perbandingan teori kehidupan awal manusia di Indonesia dengan teori Darwin”.
B. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Mendapatkan pengetahuan mengenai teori-teori mengenai asal-usul manusia.
2. Makalah ini merupakan salah satu tugas dari mata pelajaran Sejarah.
Adapun manfaat dari penulisan ini adalah :
1. Menambah wawasan bagi pribadi sebagai pelajar dalam mengenal teori-teori mengenai asal-usul manusia.
2. Mampu melaksanakan tugas penulisan suatu makalah secara baik dan tepat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KERANGKA TEORI DAN LANDASAN PEMIKIRAN
Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Menurut seorang ahli yang bernama Charles Robert Darwin (1809-1882). Dalam teorinya ia mengatakan : "Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan". Kemudian ia memperluas teorinya ini hingga sampai kepada asal-usul manusia.
Menurut Darwin manusia sekarang ini (homo sapiens) adalah hasil yang paling sempurna dari perkembangan tersebut secara teratur oleh hukum-hukum mekanik seperti halnya tumbuhan dan hewan. Kemudian lahirlah suatu pengertian bahwa ‘’manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna’’. Tetapi hal tersebut belum tentu kebenarannya.
Prof. Michael Denton merupakan salah satu ahli yang menyanggah teori Darwin dengan sebuah teori yang lain dengan sebutan A Theory in Crisis (teori dalam krisis). Beliau menguji berbagai macam cabang ilmu dan menyimpulkan bahwa teori seleksi alam sangatlah jauh dalam memberikan penjelasan bagi kehidupan yang ada di bumi (Idun Kistinnah dan Endang Sri Rahayu :2009). Selain itu pula, beliau menyatakan pendapat mengenai evolusi organik sebagai berikut.
“Setiap kelas pada tingkat molekuler adalah unik, terisolasi dan tidak terhubung oleh perantara. Dengan demikian, molekul seperti fosil, telah gagal menyediakan perantara yang tidak terjelaskan yang begitu lama dicari oleh biologi evolusioner. . . .pada tingkat molekuler, tidak ada organisme yang “leluhur” atau “primitif” atau “ maju” dibandingkan dengan kerabatnya. Ada sedikit keraguan bahwa jika bukti molekuler ini telah tersedia seabad yang lalu. . .Ide evolusi organik mungkin tidak akan pernah diterima”.
BAB III
PEMBAHASAN
A. TEORI EVOLUSI (DARWIN)
Teori evolusi ini dipelopori oleh seorang ahli zoologi bernama Charles Robert Darwin (1809-1882). Dalam teorinya ia mengatakan : "Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan". Kemudian ia memperluas teorinya ini hingga sampai kepada asal-usul manusia.
Menurut Darwin manusia sekarang ini adalah hasil yang paling sempurna dari perkembangan tersebut secara teratur oleh hukum-hukum mekanik seperti halnya tumbuhan dan hewan. Kemudian lahirlah suatu pengertian bahwa manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna.
Tetapi dalam hal ini Darwin sendiri kebingungan karena ada beberapa jenis tumbuhan yang tidak mengalami evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula.
Hal ini diantaranya merupakan kelemahan teori yang dikemukakan oleh Darwin. Karena Tidak ada titik temu antara teori yang ada dengan kenyataan. Sebagai contoh, para ahli zoologi sangat akrab dengan suatu spesies yang bernama panchronic yang tetap sama sepanjang masa. Juga ganggang biru yang diperkirakan telah ada lebih dari satu milyar tahun yang lalu namun hingga sekarang tetap sama. Yang lebih jelas lagi adalah hewan sejenis biawak/komodo yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu dan hingga kini tetap ada serta tidak mengalami perubahan.
Satu lagi masalah dari pandangan Darwin tentang “asal-usul manusia” adalah sesuatu yang didasarkan pada begitu sedikit “bukti” yang hanya berupa sebuah gigi, potongan kecil tulang paha, dan hanya ada tiga atau empat kerangka yang tersedia untuk melacak seluruh pembelajaran tentang evolusi manusia (Los Angeles Times, ibid., hal. A18). Mengapa ia berkata, “hanya ada tiga atau empat”? Jika memang hanya ada empat maka memang seharusnya ia katakan demikian. Itu berarti bahwa paling sedikit satu dari antaranya, lebih kecil dari sebuah fragmen. Ini berarti bahwa dengan penemuan kerangka fosil “baru” ini, yang terbaik, hanya empat kerangka yang lengkap. Ini adalah keseluruhan dasar untuk teori evolusi tentang “asal-usul manusia” – “hanya ada tiga atau empat” kerangka! Bagi saya ini nampak sangat miskin “bukti”, “bukti” yang sangat lemah dan sangat sedikit untuk suatu teori yang dipegang secara luas ini!
Di dalam teorinya Darwin berpendapat bahwa manusia berasal dari perkembangan makhluk sejenis kera yang sederhana kemudian berkembang menjadi hewan kera tingkat tinggi sampai akhirnya menjadi manusia. Makhluk yang tertua yang ditemukan dengan bentuk mirip manusia adalah Australopithecus yang diperkirakan umurnya antara 350.000 - 1.000.000 tahun dengan ukuran otak sekitar 450 - 1450 cm3.
Perkembangan dengan perubahan volume otak ini besar pengaruhnya bagi kecerdasan otak manusia. Australopithecus yang mempunyai volume otak rata-rata 450 cm3 berevolusi menjadi manusia kera (Neandertal) yang mempunyai volume otak 1450 cm3. Dari penelitian ini diperkirakan dalam waktu antara 400.000-500.000 tahun volume otak itu bertambah 1000 cm3. Tetapi anehnya perkembangan dari Neandertal ke manusia modern sekarang ini selama kurang lebih 100.000 tahun volume otaknya tidak berkembang. Teori ini tidak mengemukakan alasannya.
Namun banyak juga Ahli yang mengatakan bahwa teori yang dianggap ilmiah itu ternyata tidak mutlak karena antara teori dengan kenyataan tidak dapat dibuktikan.
B. TEORI KEHIDUPAN AWAL MANUSIA DI INDONESIA
(a) Prof. Dr. H. Kern,
Ilmuwan asal Belanda ini menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Kern berpendapat bahwa bahasa - bahasa yang digunakan di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia, Mikronesia memiliki akar bahasa yang sama, yakni bahasa Austronesia. Kern menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia berawal dari satu daerah dan menggunakan bahasa Campa. Menurutnya, nenek-moyang bangsa Indonesia menggunakan perahu-perahu bercadik menuju kepulauan Indonesia. Pendapat Kern ini didukung oleh adanya persamaan nama dan bahasa yang dipergunakan di daerah Campa dengan di Indonesia, misalnya kata “kampong” yang banyak digunakan sebagai kata tempat di Kamboja. Selain nama geografis, iIstilah-istilah binatang dan alat perang pun banyak kesamaannya. Tetapi pendapat ini disangkal oleh K. Himly dan P.W. Schmidt berdasarkan perbendaharaan bahasa Campa.
(b) Van Heine Geldern
Pendapatnya tak jauh berbeda dengan Kern bahwa bahasa Indonesia berasal dari Asia Tengah. Teori Geldern ini didukung oleh penemuan-penemuan sejumlah artefak, sebagai perwujudan budaya, yang ditemukan di Indonesia mempunyai banyak kesamaan dengan yang ditemukan di daratan Asia.
(c) Max Muller
Berpendapat lebih spesifik, yaitu bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Asia Tenggara. Namun, alasan Muller tak didukung oleh alasan yang jelas.
(d) Willem Smith
Melihat asal-usul bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa oleh orang-orang Indonesia. Willem Smith membagi bangsa-bangsa di Asia atas dasar bahasa yang dipakai, yakni bangsa yang berbahasa Togon, bangsa yang berbahasa Jerman, dan bangsa yang berbahasa Austria. Lalu bahasa Austria dibagi dua, yaitu bangsa yang berbahasa Austro Asia dan bangsa yang berbahasa Austronesia. Bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia ini mendiami wilayah Indonesia, Melanesia, dan Polinesia.
(e) Hogen
Menyatakan bahwa bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatera. Bangsa Melayu ini kemudian bercampur dengan bangsa Mongol yang disebut bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutro Melayu (Melayu Muda). Bangsa Proto Melayu kemudian menyebar di sekitar wilayah Indonesia pada tahun 3.000 hingga 1.500 SM, sedangkan bangsa Deutro Melayu datang ke Indonesia sekitar tahun 1.500 hingga 500 SM.
(f) Drs. Moh. Ali.
Ali menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan, Cina. Pendapat ini dipengaruhi oleh pendapat Mens yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang terdesak oleh bangsa-bangsa lebih kuat sehingga mereka pindah ke selatan, termasuk ke Indonesia. Ali mengemukakan bahwa leluhur orang Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar yang terletak di daratan Asia dan mereka berdatangan secara bergelombang. Gelombang pertama berlangsung dari 3.000 hingga 1.500 SM (Proto Melayu) dan gelombang kedua terjadi pada 1.500 hingga 500 SM (Deutro Melayu). Ciri-ciri gelombang pertama adalah kebudayaan Neolitikum dengan jenis perahu bercadik-satu, sedangkan gelombang kedua menggunakan perahu bercadik-dua.
(g) Prof. Dr. Krom
Menguraikan bahwa masyarakat awal Indonesia berasal dari Cina Tengah karena di daerah Cina Tengah banyak terdapat sumber sungai besar. Mereka menyebar ke kawasan Indonesia sekitar 2.000 SM sampai 1.500 SM.
(h) Mayundar
Berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, lalu menyebar ke wilayah Indocina terus ke daerah Indonesia dan Pasifik. Teori Mayundar ini didukung oleh penelitiannya bahwa bahasa Austria merupakan bahasa Muda di India bagian timur.
(i) Dr. Brandes,
Berpendapat bahwa suku-suku yang bermukim di kepulauan Indonesia memiliki persamaan dengan bangsa-bangsa yang bermukim di daerah-daerah yang membentang dari sebelah utara Pulau Formosa di Taiwan, sebelah barat Pulau Madagaskar; sebelah selatan yaitu Jawa, Bali; sebelah timur hingga ke tepi pantai bata Amerika. Brandes melakukan penelitian ini berdasarkan perbandingan bahasa.
(j) Prof. Mohammad Yamin,
Yamin menentang teori-teori di atas. Ia menyangkal bahwa orang Indonesia berasal dari luar kepulauan Indonesia. Menurut pandangannya, orang Indonesia adalah asli berasal dari wilayah Indonesia sendiri. Ia bahkan meyakini bahwa ada sebagian bangsa atau suku di luar negeri yang berasal dari Indonesia. Yamin menyatakan bahwa temuan fosil dan artefak lebih banyak dan lengkap di Indonesia daripada daerah lainnya di Asia, misalnya, temuan fosil Homo atau Pithecanthropus soloensis dan wajakensis yang tak ditemukan di daerah Asia lain termasuk Indocina (Asia Tenggara).
Meskipun demikian, Beberapa ahli berpendapat bahwa masyarakat awal yang menepati wilayah Indonesia termasuk bangsa melayu (Nenek moyang bangsa Indonesia) yang dapat dibedakan menjadi dua, Yaitu :
Bangsa Proto Melayu (Melayu Tua)
Bangsa proto Melayu (Melayu Tua) diperkirakan datang ke Indonesia kurang lebih tahun 1.500 SM melalui dua jalur, yakni jalur barat melalui semenanjung melayu ke Sumatra dan tersebar ke Indonesia dan jalur Timur melalui korea, Jepang, Filipina, Sulawesi dan tersebar ke Indonesia. Kebudayaan yang di bawa oleh bangsa proto melayu adalah kebudayaan Neolitikum, diantaranya yng dominan, yaitu kapak lonjong dan kapak persegi
Bangse Deutro Melayu (Melayu Muda)
Bangsa Deutro Melayu (melayu Muda) di perkirakan datang ke Indonesia Dari daratan Asia kurang lebih tahun 500 SM. Kebudayan yang dibawa adalah kebudayan yang terbuat dari logam, khususnya dari perungu, antara lain kapak corong, nekara, moko, dan candrasa. Dalam membuat alat mengunakan tehnik cire perdue bivalve.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penulisan diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
2. Teori Darwin menyatakan bahwa ‘’manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna’.’
3. Teori kehidupan awal manusia di Indonesia dikemukakan oleh beberapa ahli yang pendapatnya berbeda satu sama lain.
B. SARAN
1. Dinas Pendidikan harus merifisi buku cetak yang menjelaskan teori evolusi dengan menambahkan pendapat-pendapat para ahli yang menyanggah teori evolusi tersebut.
2. Siswa dimintakan untuk mepelajari secara mendalam mengenai Teori Kehidupan Awal Manusia di Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
id.wikipedia.org/wiki/Manusia_purba_Indonesia
id.wikipedia.org/wiki/Manusia
http://herydotus.wordpress.com
http://asepsandro.blogspot.com
http://f-adikusumo.staff.ugm.ac.id
http://bebibandel.blogspot.com
http://www.google.co.id
http://id.shvoong.com
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Diantara sekian banyak penemuan yang diciptakan oleh manusia dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian canggih, masih ada satu permasalahan yang hingga kini belum mampu dijawab dan dijabarkan oleh manusia secara eksak dan ilmiah. Masalah itu ialah masalah mengenai asal usul kejadian manusia. Banyak para ahli ilmu pengetahuan mendukung adanya teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin dalam bukunya yang berjudul The Origin of Species yang mengatakan bahwa “manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna”. Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan-penemuan ilmiah berupa fosil seperti jenis Pitheccanthropus dan Meghanthropus.
Tetapi di lain pihak, banyak para ahli yang menentang adanya proses evolusi manusia. Hal ini berdasarkan adanya kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dianut oleh setiap manusia, yang pada umumnya mengatakan bahwa manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Pada saat ini, teori mengenai evolusi manusia sedang menjadi perbincangan yang hangat, yang meluas sampai ke negara Indonesia. Hal ini menyebabkan adanya perdebatan oleh para ahli mengenai kehidupan awal manusia di Indonesia. Berdasarkan latar belakang diatas maka dibuatlah makalah mengenai “Perbandingan teori kehidupan awal manusia di Indonesia dengan teori Darwin”.
B. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Mendapatkan pengetahuan mengenai teori-teori mengenai asal-usul manusia.
2. Makalah ini merupakan salah satu tugas dari mata pelajaran Sejarah.
Adapun manfaat dari penulisan ini adalah :
1. Menambah wawasan bagi pribadi sebagai pelajar dalam mengenal teori-teori mengenai asal-usul manusia.
2. Mampu melaksanakan tugas penulisan suatu makalah secara baik dan tepat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KERANGKA TEORI DAN LANDASAN PEMIKIRAN
Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Menurut seorang ahli yang bernama Charles Robert Darwin (1809-1882). Dalam teorinya ia mengatakan : "Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan". Kemudian ia memperluas teorinya ini hingga sampai kepada asal-usul manusia.
Menurut Darwin manusia sekarang ini (homo sapiens) adalah hasil yang paling sempurna dari perkembangan tersebut secara teratur oleh hukum-hukum mekanik seperti halnya tumbuhan dan hewan. Kemudian lahirlah suatu pengertian bahwa ‘’manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna’’. Tetapi hal tersebut belum tentu kebenarannya.
Prof. Michael Denton merupakan salah satu ahli yang menyanggah teori Darwin dengan sebuah teori yang lain dengan sebutan A Theory in Crisis (teori dalam krisis). Beliau menguji berbagai macam cabang ilmu dan menyimpulkan bahwa teori seleksi alam sangatlah jauh dalam memberikan penjelasan bagi kehidupan yang ada di bumi (Idun Kistinnah dan Endang Sri Rahayu :2009). Selain itu pula, beliau menyatakan pendapat mengenai evolusi organik sebagai berikut.
“Setiap kelas pada tingkat molekuler adalah unik, terisolasi dan tidak terhubung oleh perantara. Dengan demikian, molekul seperti fosil, telah gagal menyediakan perantara yang tidak terjelaskan yang begitu lama dicari oleh biologi evolusioner. . . .pada tingkat molekuler, tidak ada organisme yang “leluhur” atau “primitif” atau “ maju” dibandingkan dengan kerabatnya. Ada sedikit keraguan bahwa jika bukti molekuler ini telah tersedia seabad yang lalu. . .Ide evolusi organik mungkin tidak akan pernah diterima”.
BAB III
PEMBAHASAN
A. TEORI EVOLUSI (DARWIN)
Teori evolusi ini dipelopori oleh seorang ahli zoologi bernama Charles Robert Darwin (1809-1882). Dalam teorinya ia mengatakan : "Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan". Kemudian ia memperluas teorinya ini hingga sampai kepada asal-usul manusia.
Menurut Darwin manusia sekarang ini adalah hasil yang paling sempurna dari perkembangan tersebut secara teratur oleh hukum-hukum mekanik seperti halnya tumbuhan dan hewan. Kemudian lahirlah suatu pengertian bahwa manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna.
Tetapi dalam hal ini Darwin sendiri kebingungan karena ada beberapa jenis tumbuhan yang tidak mengalami evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula.
Hal ini diantaranya merupakan kelemahan teori yang dikemukakan oleh Darwin. Karena Tidak ada titik temu antara teori yang ada dengan kenyataan. Sebagai contoh, para ahli zoologi sangat akrab dengan suatu spesies yang bernama panchronic yang tetap sama sepanjang masa. Juga ganggang biru yang diperkirakan telah ada lebih dari satu milyar tahun yang lalu namun hingga sekarang tetap sama. Yang lebih jelas lagi adalah hewan sejenis biawak/komodo yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu dan hingga kini tetap ada serta tidak mengalami perubahan.
Satu lagi masalah dari pandangan Darwin tentang “asal-usul manusia” adalah sesuatu yang didasarkan pada begitu sedikit “bukti” yang hanya berupa sebuah gigi, potongan kecil tulang paha, dan hanya ada tiga atau empat kerangka yang tersedia untuk melacak seluruh pembelajaran tentang evolusi manusia (Los Angeles Times, ibid., hal. A18). Mengapa ia berkata, “hanya ada tiga atau empat”? Jika memang hanya ada empat maka memang seharusnya ia katakan demikian. Itu berarti bahwa paling sedikit satu dari antaranya, lebih kecil dari sebuah fragmen. Ini berarti bahwa dengan penemuan kerangka fosil “baru” ini, yang terbaik, hanya empat kerangka yang lengkap. Ini adalah keseluruhan dasar untuk teori evolusi tentang “asal-usul manusia” – “hanya ada tiga atau empat” kerangka! Bagi saya ini nampak sangat miskin “bukti”, “bukti” yang sangat lemah dan sangat sedikit untuk suatu teori yang dipegang secara luas ini!
Di dalam teorinya Darwin berpendapat bahwa manusia berasal dari perkembangan makhluk sejenis kera yang sederhana kemudian berkembang menjadi hewan kera tingkat tinggi sampai akhirnya menjadi manusia. Makhluk yang tertua yang ditemukan dengan bentuk mirip manusia adalah Australopithecus yang diperkirakan umurnya antara 350.000 - 1.000.000 tahun dengan ukuran otak sekitar 450 - 1450 cm3.
Perkembangan dengan perubahan volume otak ini besar pengaruhnya bagi kecerdasan otak manusia. Australopithecus yang mempunyai volume otak rata-rata 450 cm3 berevolusi menjadi manusia kera (Neandertal) yang mempunyai volume otak 1450 cm3. Dari penelitian ini diperkirakan dalam waktu antara 400.000-500.000 tahun volume otak itu bertambah 1000 cm3. Tetapi anehnya perkembangan dari Neandertal ke manusia modern sekarang ini selama kurang lebih 100.000 tahun volume otaknya tidak berkembang. Teori ini tidak mengemukakan alasannya.
Namun banyak juga Ahli yang mengatakan bahwa teori yang dianggap ilmiah itu ternyata tidak mutlak karena antara teori dengan kenyataan tidak dapat dibuktikan.
B. TEORI KEHIDUPAN AWAL MANUSIA DI INDONESIA
(a) Prof. Dr. H. Kern,
Ilmuwan asal Belanda ini menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari Asia. Kern berpendapat bahwa bahasa - bahasa yang digunakan di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia, Mikronesia memiliki akar bahasa yang sama, yakni bahasa Austronesia. Kern menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia berawal dari satu daerah dan menggunakan bahasa Campa. Menurutnya, nenek-moyang bangsa Indonesia menggunakan perahu-perahu bercadik menuju kepulauan Indonesia. Pendapat Kern ini didukung oleh adanya persamaan nama dan bahasa yang dipergunakan di daerah Campa dengan di Indonesia, misalnya kata “kampong” yang banyak digunakan sebagai kata tempat di Kamboja. Selain nama geografis, iIstilah-istilah binatang dan alat perang pun banyak kesamaannya. Tetapi pendapat ini disangkal oleh K. Himly dan P.W. Schmidt berdasarkan perbendaharaan bahasa Campa.
(b) Van Heine Geldern
Pendapatnya tak jauh berbeda dengan Kern bahwa bahasa Indonesia berasal dari Asia Tengah. Teori Geldern ini didukung oleh penemuan-penemuan sejumlah artefak, sebagai perwujudan budaya, yang ditemukan di Indonesia mempunyai banyak kesamaan dengan yang ditemukan di daratan Asia.
(c) Max Muller
Berpendapat lebih spesifik, yaitu bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Asia Tenggara. Namun, alasan Muller tak didukung oleh alasan yang jelas.
(d) Willem Smith
Melihat asal-usul bangsa Indonesia melalui penggunaan bahasa oleh orang-orang Indonesia. Willem Smith membagi bangsa-bangsa di Asia atas dasar bahasa yang dipakai, yakni bangsa yang berbahasa Togon, bangsa yang berbahasa Jerman, dan bangsa yang berbahasa Austria. Lalu bahasa Austria dibagi dua, yaitu bangsa yang berbahasa Austro Asia dan bangsa yang berbahasa Austronesia. Bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia ini mendiami wilayah Indonesia, Melanesia, dan Polinesia.
(e) Hogen
Menyatakan bahwa bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatera. Bangsa Melayu ini kemudian bercampur dengan bangsa Mongol yang disebut bangsa Proto Melayu (Melayu Tua) dan Deutro Melayu (Melayu Muda). Bangsa Proto Melayu kemudian menyebar di sekitar wilayah Indonesia pada tahun 3.000 hingga 1.500 SM, sedangkan bangsa Deutro Melayu datang ke Indonesia sekitar tahun 1.500 hingga 500 SM.
(f) Drs. Moh. Ali.
Ali menyatakan bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Yunan, Cina. Pendapat ini dipengaruhi oleh pendapat Mens yang berpendapat bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang terdesak oleh bangsa-bangsa lebih kuat sehingga mereka pindah ke selatan, termasuk ke Indonesia. Ali mengemukakan bahwa leluhur orang Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar yang terletak di daratan Asia dan mereka berdatangan secara bergelombang. Gelombang pertama berlangsung dari 3.000 hingga 1.500 SM (Proto Melayu) dan gelombang kedua terjadi pada 1.500 hingga 500 SM (Deutro Melayu). Ciri-ciri gelombang pertama adalah kebudayaan Neolitikum dengan jenis perahu bercadik-satu, sedangkan gelombang kedua menggunakan perahu bercadik-dua.
(g) Prof. Dr. Krom
Menguraikan bahwa masyarakat awal Indonesia berasal dari Cina Tengah karena di daerah Cina Tengah banyak terdapat sumber sungai besar. Mereka menyebar ke kawasan Indonesia sekitar 2.000 SM sampai 1.500 SM.
(h) Mayundar
Berpendapat bahwa bangsa-bangsa yang berbahasa Austronesia berasal dari India, lalu menyebar ke wilayah Indocina terus ke daerah Indonesia dan Pasifik. Teori Mayundar ini didukung oleh penelitiannya bahwa bahasa Austria merupakan bahasa Muda di India bagian timur.
(i) Dr. Brandes,
Berpendapat bahwa suku-suku yang bermukim di kepulauan Indonesia memiliki persamaan dengan bangsa-bangsa yang bermukim di daerah-daerah yang membentang dari sebelah utara Pulau Formosa di Taiwan, sebelah barat Pulau Madagaskar; sebelah selatan yaitu Jawa, Bali; sebelah timur hingga ke tepi pantai bata Amerika. Brandes melakukan penelitian ini berdasarkan perbandingan bahasa.
(j) Prof. Mohammad Yamin,
Yamin menentang teori-teori di atas. Ia menyangkal bahwa orang Indonesia berasal dari luar kepulauan Indonesia. Menurut pandangannya, orang Indonesia adalah asli berasal dari wilayah Indonesia sendiri. Ia bahkan meyakini bahwa ada sebagian bangsa atau suku di luar negeri yang berasal dari Indonesia. Yamin menyatakan bahwa temuan fosil dan artefak lebih banyak dan lengkap di Indonesia daripada daerah lainnya di Asia, misalnya, temuan fosil Homo atau Pithecanthropus soloensis dan wajakensis yang tak ditemukan di daerah Asia lain termasuk Indocina (Asia Tenggara).
Meskipun demikian, Beberapa ahli berpendapat bahwa masyarakat awal yang menepati wilayah Indonesia termasuk bangsa melayu (Nenek moyang bangsa Indonesia) yang dapat dibedakan menjadi dua, Yaitu :
Bangsa Proto Melayu (Melayu Tua)
Bangsa proto Melayu (Melayu Tua) diperkirakan datang ke Indonesia kurang lebih tahun 1.500 SM melalui dua jalur, yakni jalur barat melalui semenanjung melayu ke Sumatra dan tersebar ke Indonesia dan jalur Timur melalui korea, Jepang, Filipina, Sulawesi dan tersebar ke Indonesia. Kebudayaan yang di bawa oleh bangsa proto melayu adalah kebudayaan Neolitikum, diantaranya yng dominan, yaitu kapak lonjong dan kapak persegi
Bangse Deutro Melayu (Melayu Muda)
Bangsa Deutro Melayu (melayu Muda) di perkirakan datang ke Indonesia Dari daratan Asia kurang lebih tahun 500 SM. Kebudayan yang dibawa adalah kebudayan yang terbuat dari logam, khususnya dari perungu, antara lain kapak corong, nekara, moko, dan candrasa. Dalam membuat alat mengunakan tehnik cire perdue bivalve.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penulisan diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti "manusia yang tahu"), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
2. Teori Darwin menyatakan bahwa ‘’manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna’.’
3. Teori kehidupan awal manusia di Indonesia dikemukakan oleh beberapa ahli yang pendapatnya berbeda satu sama lain.
B. SARAN
1. Dinas Pendidikan harus merifisi buku cetak yang menjelaskan teori evolusi dengan menambahkan pendapat-pendapat para ahli yang menyanggah teori evolusi tersebut.
2. Siswa dimintakan untuk mepelajari secara mendalam mengenai Teori Kehidupan Awal Manusia di Indonesia
DAFTAR PUSTAKA
id.wikipedia.org/wiki/Manusia_purba_Indonesia
id.wikipedia.org/wiki/Manusia
http://herydotus.wordpress.com
http://asepsandro.blogspot.com
http://f-adikusumo.staff.ugm.ac.id
http://bebibandel.blogspot.com
http://www.google.co.id
http://id.shvoong.com
0 komentar:
Posting Komentar